The Yearling

ISBN: 0743225252
ISBN 13: 9780743225250
By: Marjorie Kinnan Rawlings Edward Shenton Ivan Doig

Check Price Now

Genres

Animals Childrens Classic Classics Favorites Fiction Historical Fiction Pulitzer To Read Young Adult

About this book

RELIVE THE WONDER OF A CHILDHOOD FAVORITE THAT HAS BEEN CAPTURING THE HEARTS OF READERS FOR MORE THAN HALF A CENTURY. An instant bestseller when it was released in 1938, this Pulitzer Prize winner has been read and loved by school-age children across the nation for more than fifty years. In this classic story of the Baxter family and their wild, hard, and satisfying life in remote central Florida, Marjorie Kinnan Rawlings has written one of the great novels of our times. A rich and varied tale -- tender in its understanding of boyhood, crowded with the excitement of the backwoods hunt, with vivid descriptions of the primitive, beautiful hammock country, written with humor and earthy philosophy -- The Yearling is a novel for readers of all ages. Its glowing picture of a life refreshingly removed from modern patterns of living is universal in its revelation of simple courageous people and the beliefs they must live by. This edition, complete with a new introduction by author Ivan Doig, will be cherished for years to come and will make a welcome addition to any booklover's shelf.

Reader's Thoughts

Robyn

Meh, This wasn't a terrible read, but it didn't have anything in it that made it stand out from other similar tales of children's coming of age stories with animals, such as "Old Yeller" or "Where the Red Fern Grows". The only real novelty is that the protagonist befriends a deer instead of one of the more standard domesticated animals. Unfortunately, there's very little that the modern reader can identify with. I really felt that the author got so caught up in the place and time where the novel took place, that they neglected to add in the universal truths that make good coming of age stories have verisimilitude and staying power. The "learning the lesson" portion of the tale was shallow and I didn't really feel for the character. Perhaps this is the fault of all the characters in the book being fairly poorly developed, some of them to the point of being vague caricatures.This book isn't completely worthless, mind you, but it doesn't really excel in any point.

Martin

Sometimes you read a book and it is just words on a page, sometimes it becomes a story. And sometimes, when you're very lucky the book becomes so real you feel transported right into the pages. That was my experience here.I loved Jody and Penny's relationship, how overwhelming Penny's love is for his son, how much he wants for Jody to learn and grow. And how he watches Jody enjoying life.The Forresters were entertaining and heartbreaking at the same time. There is much to learn from the characters in this book if your heart is open.I treasured every moment I got to spend with Penny, Ora and Jody, seeing the world through their eyes.Very good book and now Andrew Peterson, a song writer, has a song about it. It is called "The Ballad of Jody Baxter". All young boys should read this book. It is on the same level as "Where the Red Fern Grows".

Amanda

I read this book at around 10 years old and it was scarring. Maybe I would see some underlying beautiful philosophy now but at that point I was mostly just traumatized. Spoiler alert: A kid raises a baby deer who ends up being unruly so they kill it. I do not advise children to read this

Lina

"Hutan, berburu, beruang, rusa, makanan, daging, semak jagung, pelaut dari Boston, lelaki-lelaki tinggi besar yang seperti beruang dan bertahan hidup."Nun jauh di sana, di sebuah hutan rimba, hiduplah satu keluarga kecil yang dikenal sebagai keluarga Baxter. Keluarga Baxter terdiri dari Pa dan Ma Baxter, serta putra tunggal mereka Jody. Keluarga Baxter tidaklah kaya, mereka bahkan bisa dikatakan miskin. Meski miskin, keluarga Baxter selalu dapat menjaga diri mereka agar tidak sampai kelaparan. Untuk dapat bertahan hidup keluarga Baxter harus bekerja keras setiap harinya. Mulai dari bertani dan menanam biji-bijian hingga berburu hewan liar di sekitar hutan. Hidup jauh di dalam hutan, membuat keluarga Baxter tidak memiliki tetangga di sekitar mereka. Satu-satunya tetangga terdekat mereka adalah keluarga Forrester yang pria-prianya bertubuh besar dan juga beringas. Tapi keluarga Baxter menjalin hubungan baik dengan keluarga Forrester hingga suatu peristiwa membuat hubungan mereka renggang. Peristiwa apakah itu?Sebagai satu-satunya anak tunggal dalam keluarga Baxter, Jody kerap kali dihinggapi kesepian. Meski mendapat kasih sayang berlimpah dari sang ayah, Jody menginginkan seorang teman yang bisa diajak berbagi dan menemaninya bermain. Hingga suatu hal membuat Jody menemukan seekor anak rusa di hutan. Nah sekarang opini gue:Saya punya kebiasaan kalau habis baca buku tentang hewan atau menonton film tentang hewan, saya suka ikut-ikutan kepengen punya binatang peliharaan, Misal sehabis menonton How To Train Your Dragon, saya jadi kepengen memelihara errr naga :PNah sehabis baca buku ini, saya jadi kepengen memelihara anak rusa. :DOk, lupakan soal binatang peliharaan, balik ke review. Sejujurnya saya bingung kalau harus menceritakan isi buku ini, karena ceritanya lebih seputar mengenai kehidupan sehari-hari keluarga Baxter dalam bertahan hidup di hutan. Tidak ada plot seperti si baik lawan si jahat, kabur dari penjara, dll.Untuk kesannya sendiri, persis seperti yang saya tulis di judul atas. Menarik, emosional tapi juga membosankan.Saya akan mulai dari menarik, cerita menarik karena penuturan penulis yang begitu kaya detil akan deskripsi, saat membaca bukunya, saya seolah seperti berada di hutan lengkap dengan kesunyian dan aroma hutan. Semua detil hutan, seperti cuaca, angin, aroma daun dan tanah, hingga bagaimana pohon-pohon dan hewan-hewan bergerak, semua detil dijabarkan dengan begitu rinci seolah tak ada celah yang terlewati. Bahkan saat berburu pun, penulis begitu runut memaparkan setiap adegan yang terjadi di sekelilingnya dan sukses membuat saya merasa ikut tegang saat mengikuti Jody dan ayahnya berburu Slewfood tua.Emosional, penulis bukan hanya kaya dalam memaparkan deskripsi visual, tapi juga detil dalam menuturkan adegan-adegan yang berhubungan dengan emosi. Misal kematian salah seorang teman Jody dan yang terutama hubungan Jody dan ayahnya. Atau bagaimana reaksi stress ayah dan ibu Jody saat hasil panen mereka hancur atau bila mereka gagal mendapat buruan. Dari sini penulis dengan tegas menyatakan, betapa mengerikannya kelaparan itu. Dan puncaknya mungkin hubungan Jody dan Flag, si anak rusa.Membosankan, nah ini mungkin selera. Kalau saja kondisi saya tidak dikejar timbunan dan kesulitan bagi waktu antara fokus baca atau hal-hal lain, saya mungkin lebih bisa menikmati buku ini. Buku klasik itu biasanya mempunyai deskripsi yang panjang lebar, bahkan deskripsinya saja bisa sebanyak 1 paragraf dan 1 paragrafnya itu bisa 1 halaman full, misal seperti di halaman 409. Sementara sekarang ini, saya lagi coba membaca 'cepat', dan baca 'cepat' itu agak kurang cocok dengan buku yang 'kaya deskripsi' atau 'permainan diksi'. Satu hal lagi yang membuat bosan adalah plot yang lambat. Rasanya untuk mencapai plot berikutnya, penulis mengajak pembaca untuk 'muter-muter' dulu, jadinya sudah membuat saya capek duluan, karena plot muter-muternya membuat saya kehilangan 'ikatan' dengan ceritanya.Karakter.Karakter favorit saya di sini adalah Pa Baxter atau Penny Baxter. Rasanya saya akan menominasikan Penny sebagai book father tahun ini. Bahkan Penny mungkin salah satu tokoh ayah paling bijak yang pernah saya baca. Saya kagum, walaupun serba kekurangan, Pa Baxter sama sekali tidak serakah dan hanya mengambil sesuatu sesuai kebutuhan.Sedangkan untuk Jody, kalau menurut saya ia agak manja. Hehehehe, tapi wajarlah masih kecil, di buku tidak pernah diberitahu umur Jody yang sebenarnya, tapi saya menebak mungkin usianya antara 11-13 tahun. Eniwei, saya berpikir, sebenarnya tema atau inti buku ini tentang apa sih? Apa tentang bertahan hidup? Setelah selesai baca, sepertinya bisa masuk tentang kedewasaan. Terkadang untuk dewasa kita harus melewati banyak hal-hal yang menyakitkan dahulu baru kita dapat memahaminya. Selain itu saya juga bersyukur hidup di era teknologi yang serba praktis, asli tidak terbayang deh kalau harus tinggal di jaman di mana segala sesuatunya serba manual. Saya ingat, paling jengkel kalau mati lampu, karena pompa air jadi tidak berfungsi dan untuk mandi, saya terpaksa menggotong air pakai ember dari bak ledeng. Selain itu, enaknya jaman sekarang, kita juga punya banyak sarana hiburan. Bayangkan dengan jaman di mana Jody hidup dan tinggal yang pilihannya serba terbatas, tak mengherankan masyarakatnya tampak antusias saat ada orang lain yang bercerita mengenai sesuatu, meskipun sesuatu itu terkadang biasa saja.Favorite quote:"Tidak ada hikmah. Manusia hanya perlu ingat untuk rendah hati karena tak ada apa pun di bumi yang bisa dia anggap miliknya sendiri." ~hal. 280"Kita tidak pernah tahu apa yang kita inginkan sampai sudah terlambat untuk mendapatkannya." ~hal 408 BTW, baca review Indah juga di sini, niatan awal mau baca bareng Indah dan Riri (My Heaven on Earth), ternyata sayanya tidak bisa fokus untuk selesai tepat waktu. Entah mengapa akhir-akhi saya merasa begitu monoton dalam mereview.Buku ini saya sarankan bagi mereka yang suka buku-buku klasik dan anak-anak ataupun buku-buku yang mengambil setting klasik.

J.M. Slowik

A classic I had never been assigned to read or really had recommended, this 1938 novel was suggested to me by a librarian and I read it chapter by chapter over a number of weeks.Taking place on "Baxter's Island" in post-Civil War Florida, this follows the bond formed between a boy, Jody Baxter, and a fawn he rescues from the wild and attempts to domesticate. I found it surprisingly touching, with some beautiful passages depicting the ineffable link we may feel between ourselves and nature, especially in the opening and concluding chapters.A great deal of the dialect used is impenetrably Southern, but this just proved something of an interesting challenge rather than anything too formidable. However, at times I found myself clueless as to what a character had actually just said. These rare moments became comic instead of frustrating, such as when Jody's mother scolds his incorrect grammar with flaws in her own speech.It's a classic for a reason. Complete and earthy and challenging, I'd recommend it for... just about anyone who hasn't read it yet.

Pooja Wanpal

When I was seven or eight years old, my father would read this book to me at night. A couple of chapters - just the happy ones. We never progressed beyond the idyll of the first few chapters, perhaps because my father knew that reality was going to wake us up some day, and there was no need to hasten it by reading about death and duty. It was admittedly a translation in my mother-tongue, but the story held me spellbound.I was twelve when I first read this book in English. Prone to judging things in black and white, I was angry with this book for breaking my heart, for shattering the cocoon of Jody's blissful existence, the halcyon childhood of his that had made its home permanently in my mind. I read the book every few years few years, and since then, it has been a tradition of mine, to fall back on this book when I feel the need to go back to the days of sunshine and corn pones and babbling brooks.

Mi_twilite why are you lokkin 4 my last name??? u R A Stalker

This is a fabulous book. I read this in 6th grade and it made me want to cry a little at the end. The author used words the way people would have said them, and her characters had heavy southern accents with words that may take a little time to figure out. This story carries you into a solid plot, mostly about the main character Jody's life. He is a poor boy living in florida, which surprised me because of the country slang. You may or may not have trouble finding things to relate to. Keep in mind that this is an older book if you have the courage to read this, because the writing is far from flawless. Regardless, this is a good book whether you like this tale or not. (Any baby deer that i see i want to call Flag now.)But seriously, this book is sadder than that commercial for an animal shelter with the teary music and dying animals.

Hendry Kurniawan

Bangsa Amerika dikenal sangat bangga dengan leluhur mereka (setidaknya begitulah kesan yang saya dapat setelah menonton beberapa film dokumenter sejarah). Ya, jika Anda bertanya pada mereka tentang hal ini, sedikit banyak Anda akan memperoleh jawaban bahwa leluhur mereka yang berasal dari Eropa telah membentuk karakter masayarakat modern Amerika sekarang yang bersifat kerja keras, pantang menyerah, pemberani, berbeda, rajin, dan sedikit pemberontak. Bagi saya pribadi, bangsa Amerika memang patut berbangga dengan karakter dan latar belakang sejarah mereka. Bayangkan, setelah sekian lama merasa terbuang di negeri-negeri feodal Eropa, segelintir orang berani mengarungi luasnya samudera dan datang ke daratan antah berantah yang sama sekali asing bagi masyarakat Eropa yang beradab. Tanah Amerika yang masih penuh dengan belantara, hewan liar, dan sekelompok penduduk pribumi Indian tidak lantas membuat mereka gentar untuk membangun sebuah peradaban dari awal, dari titik nol. Hasilnya tidak sia-sia, lihatlah negara adidaya yang sudah sangat kita kenal sekarang, Amerika Serikat (meski belakangan, negara ini terseok-seok menghadapi badai krisis ekonomi). Kehidupan penduduk awal dan pra-adidaya Amerika telah sering diangkat menjadi tema musik, drama, film, termasuk novel. Salah satu novel yang menggugah pengetahuan akan kehidupan tersebut adalah The Yearling.The Yearling merupakan salah satu karya paling terkenal dari Marjorie Kinnan Rawlings yang terbit pada tahun 1938 dan dianugerahi Pulitzer Prize 1939. Rawlings memang dikenal sebagai penulis yang banyak mengangkat tema kehidupan desa dalam kerya-karyanya. Jujur saja, sebelum saya memulai membaca isi novel The Yearling dan melihat sinopsis di belakang bukunya, saya langsung menebak bahwa Rawlings pastilah penduduk asli (native) pedesaan Amerika, tetapi saya salah besar. Rawlings sendiri merupakan wanita yang lahir dan dibesarkan di kota. Hanya melalui pengalaman dan pendekatannya dengan penduduk desa selama tinggal di kebun jeruk keluarganya, ia dapat menggambarkan kebiasaan masyarakat desa Amerika dengan luar biasa detail, untuk ukuran orang kota, dan terlebih lagi untuk ukuran seorang wanita.The Yearling bercerita tentang seorang bocah laki-laki (dalam bayangan saya tidak lebih dari 13 tahun) bernama Jody yang merupakan anak satu-satunya dan sangat disayangi oleh sepasang petani berpendidikan rendah bernama Ezra Forrester dan Ory (biasa dipanggil Pa dan Ma Forrester). Keluarga ini tinggal di daerah pedesaan Florida pada akhir tahun 1800-an. Sebelumnya, keluarga Forrester tinggal di kota, namun Ezra memutuskan untuk pindah dari kota dan memilih untuk membeli tanah luas tetapi gersang (tidak terlalu subur) demi mencari ketenangan hidup. Maka mulailah mereka hidup di lahan luas mereka itu dan mencukupi kebutuhan hidup dengan bertani dan beternak. Mereka bekerja keras setiap hari mengurus pertanian dan peternakan, hidup sangat sederhana, menghemat segala sesuatu, dan berprinsip untuk tidak membuang apapun selama masih bisa dimanfaatkan. Hewan liar dan cuaca tidak ramah ibarat bagian tak terpisahkan dalam hidup mereka.Ada satu rahasia kunci keluarga Forrester. Sebenarnya, Jody bukanlah anak pertama dari pasangan ini, sebab jauh sebelum Jody lahir, Ezra dan Ory sering mengalami kenyataan pahit anak mereka meninggal sebelum tumbuh besar. Pengalaman ini ternyata berpengaruh pada cara Ezra dan Ory membesarkan Jody. Salah satu hal yang paling menarik di sini adalahdi sepanjang cerita, pembaca akan diperlihatkan bagaimana cara Ezra dan Ory menyayangi anak semata wayangnya dengan cara yang sangat berbeda. Terkadang, pembaca mungkin akan tertawa dengan lucunya perlakuan Ezra atau Ory terhadap Jody, tapi di lain kesempatan pembaca mungkin akan merasa marah, kesal, atau bahkan menangis.Sebagai anak tunggal yang tinggal di pedesaan, Jody merasa sangat kesepian. Tidak ada saudara kandung, ibunya tidak memperbolehkannya memelihara binatang, dan hanya memiliki satu teman sebaya yang cacat, sungguh mengenaskan, dan akhirnya meninggal dunia. Dalam kondisi ini, satu-satunya teman (selain teman cacatnya itu) yang paling dekat dengannya adalah ayahnya sendiri, Ezra. Jody selalu ingin mengikuti ke mana saja ayahnya pergi dan apa saja yang ayahnya lakukan, singkatnya Ezra menjadi sosok panutan bagi Jody. Mereka kerap melalui hari bersama, bahu-membahu menyelesaikan pekerjaan bertani, maupun berburu. Kesepian Jody berakhir ketika ia akhirnya memiliki hewan peliharaan berupa anak rusa jantan yang ia beri nama Flag. Jody dan Flag sama-sama tumbuh menjadi sepasang sahabat yang tak terpisahkan hingga suatu saat Jody dihadapkan pada sebuah peristiwa (yang melibatkan Flag) yang membuatnya untuk hidup dan bersikap dewasa.Rawlings bagi saya adalah salah satu penulis yang memiliki kemampuan menyajikan pengideraan yang sangat lengkap dan detail dalam tulisannya. Pembaca seakan terbawa secara geografis maupun emosi ke dalam lokasi (setting) dan diri tokoh dalam cerita. Rawlings dapat dengan sempurna mendeskripsikan pemandangan alam, penampilan orang, cara kerja suatu benda, perilaku bianatang, dan lain-lainnya seakan kita melihatnya sendiri. Begitu juga dengan aroma makanan, kotoran hewan, harumnya bunga yang mengundang indera penciuman pembaca, rasa makanan yang mungkin akan membuat pembaca menyecap lidah, bunyi-bunyian yang sangat terasa dekat dengan telinga, serta lembutnya mantel sutera seperti benar-benar disentuh oleh pembaca. Jadi, ketika membaca novel ini kelima indera pembaca saya jamin akan sibuk menyerap informasi dan gambaran yang dipaparkan Rawlings. Satu hal lagi yang saya salutkan dari Rawlings adalah sudut pandangnya ternyata luas sekali. Ia menceritakan kehidupan bocah desa laki-laki (saya ulangi laki-laki, bukan perempuan seperti jenis kelamin yang dimilikinya) dan hubungannya dengan kedua orangtua dan orang-orang di sekitarnya. Pasti tidak mudah membuat atau bahkan sekadar membayangkan kebiasaan lawan jenis kita secara menyeluruh dan detail bukan? Tetapi yang menakjubkan, Rawling berhasil melakukan hal tersebut.Membaca The Yearling bagi saya merupakan pengalam yang tak bisa dilupakan. Ketika sampai pada kalimat terakhir novel ini dan menutupnya, saya merasa seperti baru saja diajak keliling dalam sebuah tur, ya tur kehidupan seorang bocah yang pada akhirnya memetik banyak pelajaran dari kehidupan desanya. Ada yang punya komentar?

Richard Kramer

I've had a ratty old edition in my basement for decades. Finally I said, well, now's the time, and sat down to read it. I've always loved the MGM version with Gregory Peck and Jane Wyman. Rawlings' book is flintier, tougher, somehow even more moving. I had to shake the images of the actors out of my head and go with her conjurings of Penny, Ora, and Jody Baxter. I'm glad I did. Rawlings was a pet of Maxwell Perkins and their published correspondence makes a great companion piece to this. This book is for children but isn't at all, too. It is about arriving at the moment in life when for the first time you are forced to kill the thing that you think will be the only thing in your life just like it, the only thing you will ever love. And the sadness, always, is when you learn you were wrong.

Megan

It took me awhile to get (or should I say "git") used to the backwoods language used in the book. It was interesting to read about that way of life. I prepared myself for tears and I wasn't disappointed.

Maureen

Ain't it strange that so many children's classics make children cry? The story of young Jody Baxter and his fawn pal Flag depicts a harsh life in the Florida swamp. It is full of strange (to most children) life experiences, and retains its ability to make me tear up just thinking about it. As long as children cherish stories that ring with a larger, deeper, inner truth, this book prevail.

Rob Warner

A Civil War-era coming of age novel that's a spiritual cousin to Where the Red Fern Grows, but with a broader story and a deeper dive into life's challenges. Reading this book reminds you how deeply people understood the consequences of choice, as sloth translated brutally into starvation. Indeed, the need to work for one's supper every day, planning for both the moment and the future, contrasts starkly with our present-day welfare state that, for some, rewards indolence.One other thing that jumps out from this tale is that the family, though living without TV, smartphones, cars, running water, or any of the other niceties we demand as a baseline for happiness, are just as happy as we are. They find plenty of joys, despite their hardships, and in the process sober us and our propensity to storm about under-whipped lattes and 404s. The tasks they faced daily would cave many of us, yet they take them in stride and relish in their accomplishments.The protagonist, Jody, lets us into his thoughts and the conundrums he must un-puzzle as he becomes a man. The dialect, though distracting at times, helps form the context of the life he leads.

Suryati

Kisah tentang Jody yang tinggal dengan ayah dan ibunya, Ma dan Pa Baxter di daerah terpencil di antara pohon-pohon pinus jauh dari para tetangga.Pa Baxter, lelaki kecil yang tak banyak bicara anak dari seorang pendeta dan dibesarkan dengan didikan keras, sulit bersosialisasi tapi sangat bertanggung jawab, jujur dan penuh cinta kasih.Dia memilih hidup terpisah dari komunitas masyarakat pada umumnya karena lebih merasa hidup diantara hutan dan hewan-hewannya daripada hidup diantara para tetangganya.Ma Baxter, perempuan bertubuh besar, dan berwatak keras, jarang memuji dan lebih sering digambarkan selalu berprasangka buruk terhadap apapun. Ternyata sikapnya dipengaruhi oleh kematian anak-anaknya dan kehidupan sulit yang dialaminya. Tapi dia seorang ibu yang bertanggung jawab dalam hal pekerjaan rumah tangganya.Keluarga Forrester, tetangga terdekat Baxter, terdiri dari beberapa lelaki yang berbadan besar, tegap, sering bersikap kasar dan senang berpesta.Hubungan unik antara keluarga Baxter dan Forrester, dua keluarga yang bertolak belakang tapi saling membutuhkan dan mampu bahu membahu mengatasi kesulitan saat gangguan para predator terutama dari Beruang yang memangsa hewan ternak mereka, mampu diceritakan dengan jelas dan menarik.Buku ini menceritakan kejadian sehari-hari yang dialami keluarga Jody, bagaimana mereka bercocok tanam, mencari air, dan berburu. Terkadang situasi sulit seperti di musim dingin dan angin topan harus dilalui dalam rumah kecil mereka dengan bertahan hidup dari segala persediaan makanan yang tersisa.Rasa kesepian Jody karena tidak punya saudara membuatnya ingin sekali memiliki binatang peliharaan seperti yang dimiliki anak terkecil keluarga Foresster. Keinginan yang sangat ditentang oleh ibunya karena hanya akan menambah beban penghidupan mereka. Rasa kesepian Jody sangat dimengerti oleh ayahnya hingga Pa Baxter berusaha selalu mengajak Jody berburu dan melakukan aktifitas hingga hilang rasa sepinya. Dan akhirnya rasa kesepian itu terobati setelah dia diperbolehkan memelihara Flag, seekor anak rusa.Cerita yang teramat detail menggambarkan suasana hutan, tingkah para hewannya, perburuan terhadap binatang, kerasnya kehidupan di tengah belantara hingga hubungan antar manusia yang unik... saat digambarkan bagaimana tenangnya menikmati pemandangan disekitar hutan seolah mengantar kita benar-benar ada di sana. Saya suka dengan gambaran detail setiap peristiwa, tentang keindahan pagi di sepanjang hutan, tentang tarian burung bangau dan gambaran kehidupan keluarga Baxter untuk mempertahankan kehidupannya. Tapi sedikit ngeri membaca detailnya perburuan terhadap binatang yang sepertinya hampir seluruh hewan yang diburu akan dikonsumsi, gak kebayang makan daging kucing hutan, tupai, ular bahkan beruang.Cerita ini juga pada akhirnya memberi Jody suatu pelajaran, bagaimana bertanggung jawab dalam keluarga dan bagaimana merasakan siksaan kelaparan. Sedihnya melihat Jody harus merelakan hewan kesayangannya...

ShaLisa

I loved this book! It was so beautiful in story, writing and depth. This book was tender as well as hard. Tender because of the mercies of his father and his feelings for the creatures - especially Flag. Hard because they had to make difficult choices for their own survival.Without meaning to be, this book was one of the best parenting books I have read. I loved and craved the relationship between the father and son because of the understanding of the father and the longing to carry each others burdens. Penny has many admirable qualities - I loved his character. The idea that Jody thought his father might not want him to return when it was so clear to me that everything Penny did was for Jody gave me much food for thought. A parent's underderstanding and perception is usually different than a child's. I must say that my heart broke for Ory who worked tirelessly and let the hard life taint her family relationships, something so easy to do. She was a good person but she wasn't as happy as she could be. The title makes you think of the fawn, yet, I see now that it was talking about Jody. He changed that year. He learned some hard lessons and gained perspective. (The fact that he was 13 years old gives me hope for my young children who seem slow to learn lessons of hard work and selflessness). I finished the book several days ago but it remains regularly on my mind. There are so many ways to benefit from having read this book.

Sabrina

Buku ini memenangkan Pulitzer di tahun 1939. Tapi bukan itu yang membuat saya membeli buku ini. Saya menyukai warna cover-nya yang sederhana dan terlihat kuno.Sesuai sinopsisnya, buku ini menceritakan keluarga Baxter yang tinggal di sebuah tanah pertanian terpencil. Jody adalah anak satu-satunya di keluarga itu. Ia seringkali merasa kesepian. Setiap hari ia membantu ayahnya berburu dan mengurus tanaman. Sampai suatu saat ia menemukan anak rusa di hutan. Anak rusa itu kehilangan induknya karena ayah Jody yang digigit ular derik membunuh induk rusa itu demi mendapatkan liver rusa yang bisa menghancurkan racun.Jody kegirangan karena bisa memelihara si anak rusa. Seluruh waktunya dihabiskan untuk bermain dengan anak rusa yang bernama Flag itu. Tapi rusa bukanlah binatang peliharaan yang penurut seperti anjing. Saat rusa itu semakin besar, Jody tidak lagi bisa mengontrolnya. Tunas-tunas tanaman yang mereka tanam dimakan Flag dan banyak kerusakan ditimbulkan oleh rusa itu. Sampai akhirnya, Jody harus mengambil keputusan demi kehidupan keluarganya.Inti dari buku ini sebenarnya adalah melihat proses Jody yang berubah menjadi lebih dewasa. Kejadian-kejadian kecil yang terjadi membuat dia mendapatkan banyak pengalaman berharga. Saya menyukai ayah Jody yang begitu sabar dan bijaksana dan juga Ma Baxter yang galak namun penuh kasih sayang. Penulis menggambarkan karakter ketiganya dengan sangat baik dan menciptakan suatu keluarga sederhana yang sangat heart warming. Saya senang menyaksikan datarnya dan monotonnya kehidupan mereka. Selain tiga anggota keluarga Baxter, hanya ada cerita tentang tetangga dan kenalan mereka yang tidak begitu banyak. Yah, mereka tinggal di desa terpencil sih. Tapi di sini saya bisa melihat kerja sama dan pentingnya menjaga hubungan baik dengan tetangga. Karena siapa lagi yang bisa menolong selain mereka di tengah hutan seperti itu? Lucu sekali mengamati jalan pikiran Jody yang seperti anak kecil. Dia dengan jujur tidak menyukai tetangganya walaupun Penny Baxter selalu menasehatinya.Yang paling mencolok dari buku ini adalah bahasanya. Indah sekali. Deskripsinya sangat sempurna. Saya bisa merasakan dengan jelas setting tempatnya. Hutan dengan pohon-pohon di sekitarnya, tanah pertanian yang penuh dengan kuncup-kuncup tanaman baru, rawa-rawa tempat serigala dan beruang sesekali bersembunyi, sungai yang meluap banjir dan menghancurkan tanah sekitarnya, suasana pesta di pusat desa, pasar-pasar yang ramai pengunjung, dsb. Cuma sayangnya saya kurang suka cerita binatang kali ya. Dan saya memang nggak suka rusa. Dari awal saya sudah tahu jadinya bakal kayak apa. Rusa kan memang nakal. Jadi, saya agak bosan bagian si Flag. Padahal perburuan beruang "Slewfoot Tua" dan penjelajahan lainnya lumayan seru. http://sabrinazheng.blogspot.com/2014...

Share your thoughts

Your email address will not be published. Required fields are marked *