The Yearling

ISBN: 0689846231
ISBN 13: 9780689846236
By: Marjorie Kinnan Rawlings

Check Price Now

Genres

Animals Childrens Classic Classics Favorites Fiction Historical Fiction Pulitzer To Read Young Adult

About this book

Young Jody adopts an orphaned fawn he calls Flag and makes it a part of his family and his best friend. But life in the Florida backwoods is harsh, and so, as his family fights off wolves, bears, and even alligators, and faces failure in their tenuous subsistence farming, Jody must finally part with his dear animal friend. There has been a film and even a musical based on this story.

Reader's Thoughts

Althesia

Sebelum The Yearling, Rawlings kerap kali mendapat penolakan dari editornya, Max Perkins. Namun Perkins mengarahkan Rawlings untuk menulis sesuatu yang dia pahami dari lingkungannya. Sejak itulah Rawlings mulai menulis The Yearling yang sebelumnya pernah diajukan dengan nama The Flutter Mill dan Juniper Island. Meskipun penulisan novel ini sempat terhenti, namun pada tahun 1938, novel ini berhasil dipublikasikan dan terpilih menjadi Book-of-the-Month Club pada bulan April 1938. Novel yang pernah menjadi pemenang Pulitzer Prize tahun 1939 ini memiliki tempo yang lambat dan detail yang sangat kuat. The Yearling menggunakan latar tempat Florida tengah pada awal abad ke-20. Tokoh utama di dalam novel ini adalah Jody yang hidup bersama ayahnya Ezra “Penny” Baxter dan ibunya Ora “Ory” Baxter. “Minggu pertama September selalu kering kerontang seperti tulang belulang tua. Hanya rumput liat yang tumbuh. Panas membuat suasana tegang. Anjing-anjing jadi galak. Ular-ular merayap bebas karena periode terpanas sudah lewat dan masa ganti kulit serta kebutaan mereka telah usai” [hal 261]Mereka hidup di sebuah lahan yang telah di beli oleh Penny dari keluarga Forrester.Wilayah yang dikelilingi pohon pinus."wilayah kecil dengan tumbuhan subur; bahkan dipenuhi pohon hammock yang paling subur dibanding semuanya. Ada beberapa pohon ek di sana-sini; pohon salam merah dan magnolia; ceri liar dan pohon karet; hickory dan holly. Langkanya air merupakan satu-satunya masalah bagi lokasi itu."[hal 25] Hasil tani adalah sumber penghidupan mereka, sesekali Penny mengajak Jody berburu, mereka menukarkan hasil buruan dengan berbagai kebutuhan hidup mereka. Selain berburu, setiap hari Jody membantu ibunya untuk mengangkut air dari sebuah tempat air resapan yang telah disekat-sekat oleh Penny untuk kebutuhan keluarga dan ternak yang berjarak beberapa kilometer dari rumah mereka. Setelah itu, Jody memotong kayu dan memerah sapi. Penny dan Ory telah berkali-kali kehilangan anak sebelum mereka memiliki Jody, karena itu Jody menjadi sangat khusus untuk mereka, terutama untuk Penny. Penny yang semasa kecil dididik dengan cara yang keras, memperlakukan Jody dengan kelembutan dan pengertian yang semasa kecil tidak diperolehnya. Jody sangat mencintai alam, setiap kali dia dan ayahnya berburu, dia selalu menginginkan seekor binatang yang bisa dipeliharanya sejak kecil. Suatu hari, Jody bertemu dengan seekor rusa jantan yang masih sangat kecil, dengan persetujuan ayahnya, dia memelihara rusa jantan itu. Karena keluarga Baxter hanya memiliki sedikit persediaan makanan, setiap hari Jody menyisihkan jatah makanan dan susu yang dimilikinya untuk Flag, si anak rusa. Flag menjadi anggota keluarga Baxter yang baru, dia bahkan bermain dan tidur bersama anjing-anjing keluarga Baxter. Sampai suatu saat, Jody harus membuat keputusan yang sulit ketika ayahnya jatuh sakit.“Tidak ada hikmah. Manusia hanya perlu ingat untuk rendah hati karena tak ada apapun di bumi ini yang bisa dia anggap miliknya sendiri” [hal 280]Untuk saya, novel ini sangat membuai. Secara keseluruhan, Rawlings hanya bercerita mengenai kehidupan sederhana sebuah keluarga, sesekali saya dibuat menunggu dengan ditemani detail alam, namun tanpa terasa sebuah kejadian bermula, membangunkan saya dari buaian, kemudian membawa saya memasuki sebuah pertemuan, perkelahian, peristiwa-peristiwa menggelitik, kehilangan dan secara perlahan-perlahan kembali menenangkan, penulis seakan mau berkata “oke…ketegangan itu sampai disini dulu”. Ini adalah kisah sebuah keluarga yang membangun hidup mereka di sebuah tanah kering di Florida. Ini adalah kisah seorang anak yang memiliki hubungan yang luar biasa dengan ayahnya. Ini adalah kisah seorang pria yang selalu berusaha melakukan pekerjaan sepuluh orang. Ini adalah kisah seorang anak yang senang bermain bersama rusa kesayangannya di tepi sebuah ceruk, tempat air serapan. Ini adalah kisah bagaimana kerasnya hidup dan tanggung jawab dapat membuat seseorang harus menghadapi dunia dan menjadi dewasa.“Nak, hidup akan mengkhinatimu. Kau sudah melihat apa yang terjadi di dunia manusia. Kau sudah tahu ada orang yang jahat dan nista. Kau sudah melihat Maut dan trik-triknya. Kau sudah mengenal Kelaparan. Semua orang ingin agar hidupnya indah dan mudah. Hidup memang indah, Nak, sangat indah, namun tidak mudah. Hidup akan menjatuhkan seseorang dan begitu orang itu bangkit, dia akan dijatuhkan lagi…..Lalu apa yang harus dia lakukan? Apa yang harus ia lakukan ketika jatuh? Tentu saja ia harus menerima hal itu dan melanjutkan hidup” [hal 498-499]

John Yelverton

I read this book because I was required to, and any joy I may have gotten out of it was destroyed before I even started.

Hendry Kurniawan

Bangsa Amerika dikenal sangat bangga dengan leluhur mereka (setidaknya begitulah kesan yang saya dapat setelah menonton beberapa film dokumenter sejarah). Ya, jika Anda bertanya pada mereka tentang hal ini, sedikit banyak Anda akan memperoleh jawaban bahwa leluhur mereka yang berasal dari Eropa telah membentuk karakter masayarakat modern Amerika sekarang yang bersifat kerja keras, pantang menyerah, pemberani, berbeda, rajin, dan sedikit pemberontak. Bagi saya pribadi, bangsa Amerika memang patut berbangga dengan karakter dan latar belakang sejarah mereka. Bayangkan, setelah sekian lama merasa terbuang di negeri-negeri feodal Eropa, segelintir orang berani mengarungi luasnya samudera dan datang ke daratan antah berantah yang sama sekali asing bagi masyarakat Eropa yang beradab. Tanah Amerika yang masih penuh dengan belantara, hewan liar, dan sekelompok penduduk pribumi Indian tidak lantas membuat mereka gentar untuk membangun sebuah peradaban dari awal, dari titik nol. Hasilnya tidak sia-sia, lihatlah negara adidaya yang sudah sangat kita kenal sekarang, Amerika Serikat (meski belakangan, negara ini terseok-seok menghadapi badai krisis ekonomi). Kehidupan penduduk awal dan pra-adidaya Amerika telah sering diangkat menjadi tema musik, drama, film, termasuk novel. Salah satu novel yang menggugah pengetahuan akan kehidupan tersebut adalah The Yearling.The Yearling merupakan salah satu karya paling terkenal dari Marjorie Kinnan Rawlings yang terbit pada tahun 1938 dan dianugerahi Pulitzer Prize 1939. Rawlings memang dikenal sebagai penulis yang banyak mengangkat tema kehidupan desa dalam kerya-karyanya. Jujur saja, sebelum saya memulai membaca isi novel The Yearling dan melihat sinopsis di belakang bukunya, saya langsung menebak bahwa Rawlings pastilah penduduk asli (native) pedesaan Amerika, tetapi saya salah besar. Rawlings sendiri merupakan wanita yang lahir dan dibesarkan di kota. Hanya melalui pengalaman dan pendekatannya dengan penduduk desa selama tinggal di kebun jeruk keluarganya, ia dapat menggambarkan kebiasaan masyarakat desa Amerika dengan luar biasa detail, untuk ukuran orang kota, dan terlebih lagi untuk ukuran seorang wanita.The Yearling bercerita tentang seorang bocah laki-laki (dalam bayangan saya tidak lebih dari 13 tahun) bernama Jody yang merupakan anak satu-satunya dan sangat disayangi oleh sepasang petani berpendidikan rendah bernama Ezra Forrester dan Ory (biasa dipanggil Pa dan Ma Forrester). Keluarga ini tinggal di daerah pedesaan Florida pada akhir tahun 1800-an. Sebelumnya, keluarga Forrester tinggal di kota, namun Ezra memutuskan untuk pindah dari kota dan memilih untuk membeli tanah luas tetapi gersang (tidak terlalu subur) demi mencari ketenangan hidup. Maka mulailah mereka hidup di lahan luas mereka itu dan mencukupi kebutuhan hidup dengan bertani dan beternak. Mereka bekerja keras setiap hari mengurus pertanian dan peternakan, hidup sangat sederhana, menghemat segala sesuatu, dan berprinsip untuk tidak membuang apapun selama masih bisa dimanfaatkan. Hewan liar dan cuaca tidak ramah ibarat bagian tak terpisahkan dalam hidup mereka.Ada satu rahasia kunci keluarga Forrester. Sebenarnya, Jody bukanlah anak pertama dari pasangan ini, sebab jauh sebelum Jody lahir, Ezra dan Ory sering mengalami kenyataan pahit anak mereka meninggal sebelum tumbuh besar. Pengalaman ini ternyata berpengaruh pada cara Ezra dan Ory membesarkan Jody. Salah satu hal yang paling menarik di sini adalahdi sepanjang cerita, pembaca akan diperlihatkan bagaimana cara Ezra dan Ory menyayangi anak semata wayangnya dengan cara yang sangat berbeda. Terkadang, pembaca mungkin akan tertawa dengan lucunya perlakuan Ezra atau Ory terhadap Jody, tapi di lain kesempatan pembaca mungkin akan merasa marah, kesal, atau bahkan menangis.Sebagai anak tunggal yang tinggal di pedesaan, Jody merasa sangat kesepian. Tidak ada saudara kandung, ibunya tidak memperbolehkannya memelihara binatang, dan hanya memiliki satu teman sebaya yang cacat, sungguh mengenaskan, dan akhirnya meninggal dunia. Dalam kondisi ini, satu-satunya teman (selain teman cacatnya itu) yang paling dekat dengannya adalah ayahnya sendiri, Ezra. Jody selalu ingin mengikuti ke mana saja ayahnya pergi dan apa saja yang ayahnya lakukan, singkatnya Ezra menjadi sosok panutan bagi Jody. Mereka kerap melalui hari bersama, bahu-membahu menyelesaikan pekerjaan bertani, maupun berburu. Kesepian Jody berakhir ketika ia akhirnya memiliki hewan peliharaan berupa anak rusa jantan yang ia beri nama Flag. Jody dan Flag sama-sama tumbuh menjadi sepasang sahabat yang tak terpisahkan hingga suatu saat Jody dihadapkan pada sebuah peristiwa (yang melibatkan Flag) yang membuatnya untuk hidup dan bersikap dewasa.Rawlings bagi saya adalah salah satu penulis yang memiliki kemampuan menyajikan pengideraan yang sangat lengkap dan detail dalam tulisannya. Pembaca seakan terbawa secara geografis maupun emosi ke dalam lokasi (setting) dan diri tokoh dalam cerita. Rawlings dapat dengan sempurna mendeskripsikan pemandangan alam, penampilan orang, cara kerja suatu benda, perilaku bianatang, dan lain-lainnya seakan kita melihatnya sendiri. Begitu juga dengan aroma makanan, kotoran hewan, harumnya bunga yang mengundang indera penciuman pembaca, rasa makanan yang mungkin akan membuat pembaca menyecap lidah, bunyi-bunyian yang sangat terasa dekat dengan telinga, serta lembutnya mantel sutera seperti benar-benar disentuh oleh pembaca. Jadi, ketika membaca novel ini kelima indera pembaca saya jamin akan sibuk menyerap informasi dan gambaran yang dipaparkan Rawlings. Satu hal lagi yang saya salutkan dari Rawlings adalah sudut pandangnya ternyata luas sekali. Ia menceritakan kehidupan bocah desa laki-laki (saya ulangi laki-laki, bukan perempuan seperti jenis kelamin yang dimilikinya) dan hubungannya dengan kedua orangtua dan orang-orang di sekitarnya. Pasti tidak mudah membuat atau bahkan sekadar membayangkan kebiasaan lawan jenis kita secara menyeluruh dan detail bukan? Tetapi yang menakjubkan, Rawling berhasil melakukan hal tersebut.Membaca The Yearling bagi saya merupakan pengalam yang tak bisa dilupakan. Ketika sampai pada kalimat terakhir novel ini dan menutupnya, saya merasa seperti baru saja diajak keliling dalam sebuah tur, ya tur kehidupan seorang bocah yang pada akhirnya memetik banyak pelajaran dari kehidupan desanya. Ada yang punya komentar?

Mary Anne

This is one of the most boring books I have ever read. I know it is considered a classic and has probably been loved for several years, but the form of writing was dragging, and the ending SUCKS. I did not find it worthy of my time, I only read it because it was a school requirement.

Amanda

I read this book at around 10 years old and it was scarring. Maybe I would see some underlying beautiful philosophy now but at that point I was mostly just traumatized. Spoiler alert: A kid raises a baby deer who ends up being unruly so they kill it. I do not advise children to read this

Scott Hubbard

** spoiler alert ** Rawlings sets us up for loss from the end of the first chapter: "A mark was on [Jody] from the day's delight, so that all his life, when April was a thin green and the flavor of rain was on his tongue, an old wound would throb and a nostalgia would fill him for something he could not quite remember." And as shet sets us up, she inspires the same feeling of vague loss that each of us carries. There is an old wound that is the shared experience of all mankind, a wound that binds us all together even as it plunges us into the same loneliness Jody would feel every time he would hear the whip-poor-will sing.In his reflection after reading the book, Andrew Peterson writes, "The book didn't wound me. The wound was already there. The book gave the wound a name, which is strong medicine." Rawlings names the wound, indeed. This is the story of the wounding of the human soul. Not Jody's only, but everybody's. Yet there is hope in the naming of the wound. Rawling's may leave us without a shred of hope for the death of the yearling (i.e. Jody)--"It was not his own voice that called. It was a boy's voice. Somewhere beyond the sink-hole, past the magnolia, under the live oaks, a boy and a yearling ran side by side, and were gone forever"--but there is, as Peterson intimates, implicit hope in the simple naming of it. What hope do we have of healing without knowledge of the injury? The wounding of the human soul captured by Rawlings is caught up in the larger wound of the world. Creation groans in the novel, and it's more than the changing of seasons. Creation groans with the sorrow of pain and death, the unnatural intruders that seem the fitting means and end for so great a loss but that ring with the cry of outlaws. It takes powerful writing to bring forth the blatant unnaturalness of pain and death, the terrible and rebellious presence of a nature that is "red in tooth and claw." Rawlings did half the job of a prophet. She indeed named the wound, but she did not name the Healer. After I finished the book, I was left in grateful wonder over two stark statements in the New Testament: "God raised [Jesus] up, loosing the pangs of death, because it was not possible for Him to be held by it" (Ac. 2:24); "[Jesus] abolished death and brought life and immortality to light through the gospel" (2 Tm. 1:10). It was not possible for Jesus Christ to be held by death; indeed, He Himself abolished it. It reminds me of the title of Owen's book, "The Death of Death in the Death of Christ." Here is our Savior. Here is our Healer of the wound.

Michael Selden

It's been a long while since I last read The Yearling, maybe twenty or twenty-five years. My memory of its details was rather vague, although I knew the tone and some of the plot. It was refreshing to read again and to see the world of early Florida and the rich characters brought to life.Rawlings descriptive narrations of the world around the main character (Jody) are among the bestI've read. The detail and feel of the place took me back to the area—I did my undergraduate work at the Univ. of Florida, very close to where she lived when she wrote this book.The cast of characters were varied, from the boisterous Foresters to the more sedate and ruminative Penny Baxter (Jody's father). I'd classify this as a Middle Grade book—a young boy finding his place in the world—and you can see how his relationship with his father and the yearling form a kind of allegory about growing up. I won't say more about the plot since I would rather the author tell the story, but I will say that this book is worth reading.

Sabrina

Buku ini memenangkan Pulitzer di tahun 1939. Tapi bukan itu yang membuat saya membeli buku ini. Saya menyukai warna cover-nya yang sederhana dan terlihat kuno.Sesuai sinopsisnya, buku ini menceritakan keluarga Baxter yang tinggal di sebuah tanah pertanian terpencil. Jody adalah anak satu-satunya di keluarga itu. Ia seringkali merasa kesepian. Setiap hari ia membantu ayahnya berburu dan mengurus tanaman. Sampai suatu saat ia menemukan anak rusa di hutan. Anak rusa itu kehilangan induknya karena ayah Jody yang digigit ular derik membunuh induk rusa itu demi mendapatkan liver rusa yang bisa menghancurkan racun.Jody kegirangan karena bisa memelihara si anak rusa. Seluruh waktunya dihabiskan untuk bermain dengan anak rusa yang bernama Flag itu. Tapi rusa bukanlah binatang peliharaan yang penurut seperti anjing. Saat rusa itu semakin besar, Jody tidak lagi bisa mengontrolnya. Tunas-tunas tanaman yang mereka tanam dimakan Flag dan banyak kerusakan ditimbulkan oleh rusa itu. Sampai akhirnya, Jody harus mengambil keputusan demi kehidupan keluarganya.Inti dari buku ini sebenarnya adalah melihat proses Jody yang berubah menjadi lebih dewasa. Kejadian-kejadian kecil yang terjadi membuat dia mendapatkan banyak pengalaman berharga. Saya menyukai ayah Jody yang begitu sabar dan bijaksana dan juga Ma Baxter yang galak namun penuh kasih sayang. Penulis menggambarkan karakter ketiganya dengan sangat baik dan menciptakan suatu keluarga sederhana yang sangat heart warming. Saya senang menyaksikan datarnya dan monotonnya kehidupan mereka. Selain tiga anggota keluarga Baxter, hanya ada cerita tentang tetangga dan kenalan mereka yang tidak begitu banyak. Yah, mereka tinggal di desa terpencil sih. Tapi di sini saya bisa melihat kerja sama dan pentingnya menjaga hubungan baik dengan tetangga. Karena siapa lagi yang bisa menolong selain mereka di tengah hutan seperti itu? Lucu sekali mengamati jalan pikiran Jody yang seperti anak kecil. Dia dengan jujur tidak menyukai tetangganya walaupun Penny Baxter selalu menasehatinya.Yang paling mencolok dari buku ini adalah bahasanya. Indah sekali. Deskripsinya sangat sempurna. Saya bisa merasakan dengan jelas setting tempatnya. Hutan dengan pohon-pohon di sekitarnya, tanah pertanian yang penuh dengan kuncup-kuncup tanaman baru, rawa-rawa tempat serigala dan beruang sesekali bersembunyi, sungai yang meluap banjir dan menghancurkan tanah sekitarnya, suasana pesta di pusat desa, pasar-pasar yang ramai pengunjung, dsb. Cuma sayangnya saya kurang suka cerita binatang kali ya. Dan saya memang nggak suka rusa. Dari awal saya sudah tahu jadinya bakal kayak apa. Rusa kan memang nakal. Jadi, saya agak bosan bagian si Flag. Padahal perburuan beruang "Slewfoot Tua" dan penjelajahan lainnya lumayan seru. http://sabrinazheng.blogspot.com/2014...

Jon Woodson

I read this as part of a huge study of esoteric fiction that I have now finished writing. I still have to try to understand why this book is so popular. It certainly is not a book for children or young adults. It was not really intended for them, but along the way somebody Rawlings had in her circle decided that it was a sort of update to Huckleberry Finn, or at least if they said it was, they could make some money. But the novel is situalted in a bleak understanding of the meaning of life on the planet Earth, and it's a terrifying book. It's also very much situated in esotericism and filled with a lot of artificial stituations--symbolic storms and ravening packs of predators-- that record esoteric information and ruin the novel as the sort of tale that people are looking for. I am close to deciding that readers have the gift of ignoring what is on the page and making a novel into what they think they are reading regardless of what is on the page. As a novel that belongs to a huge group of esoteric novels that are not seen for what they are, it is one of the best ones: that is why I gave it four stars. But as a tale that successfully entertains young readers, I think it's not adequate. Of course, in some ways even Huckleberry Finn is inappropriate for what it has become, since Huck's Pap is a monster and there are some hair-raising incidents on the river. But Twain is satirizing some rather shallow social problems, and Rawlings is summoning a metaphysical black hole for the sensitive reader to fall into and to be lost forever.

Pooja Wanpal

When I was seven or eight years old, my father would read this book to me at night. A couple of chapters - just the happy ones. We never progressed beyond the idyll of the first few chapters, perhaps because my father knew that reality was going to wake us up some day, and there was no need to hasten it by reading about death and duty. It was admittedly a translation in my mother-tongue, but the story held me spellbound.I was twelve when I first read this book in English. Prone to judging things in black and white, I was angry with this book for breaking my heart, for shattering the cocoon of Jody's blissful existence, the halcyon childhood of his that had made its home permanently in my mind. I read the book every few years few years, and since then, it has been a tradition of mine, to fall back on this book when I feel the need to go back to the days of sunshine and corn pones and babbling brooks.

Judy

This is the story of Jody, a boy in the Florida outback who wants a pet and finally gets a fawn when his father is bit by a rattler and has to shoot the doe mother so he can use her organs to suck the venom out of his leg. There are so many beautifully written passages, but my favorite parts tell of Jody's friendship with a handicapped child on a nearby farm and of Jody's innocent, crushing love for the fawn he names Flag. This book won the Pulitzer Prize for Fiction in 1939. I followed up my reading by watching the 1946 film adaptation starring Gregory Peck as Jody's father and Jane Wyman as his mother. The movie can't beat the book, but it was a fun post script to my reading.

Richard Kramer

I've had a ratty old edition in my basement for decades. Finally I said, well, now's the time, and sat down to read it. I've always loved the MGM version with Gregory Peck and Jane Wyman. Rawlings' book is flintier, tougher, somehow even more moving. I had to shake the images of the actors out of my head and go with her conjurings of Penny, Ora, and Jody Baxter. I'm glad I did. Rawlings was a pet of Maxwell Perkins and their published correspondence makes a great companion piece to this. This book is for children but isn't at all, too. It is about arriving at the moment in life when for the first time you are forced to kill the thing that you think will be the only thing in your life just like it, the only thing you will ever love. And the sadness, always, is when you learn you were wrong.

Suryati

Kisah tentang Jody yang tinggal dengan ayah dan ibunya, Ma dan Pa Baxter di daerah terpencil di antara pohon-pohon pinus jauh dari para tetangga.Pa Baxter, lelaki kecil yang tak banyak bicara anak dari seorang pendeta dan dibesarkan dengan didikan keras, sulit bersosialisasi tapi sangat bertanggung jawab, jujur dan penuh cinta kasih.Dia memilih hidup terpisah dari komunitas masyarakat pada umumnya karena lebih merasa hidup diantara hutan dan hewan-hewannya daripada hidup diantara para tetangganya.Ma Baxter, perempuan bertubuh besar, dan berwatak keras, jarang memuji dan lebih sering digambarkan selalu berprasangka buruk terhadap apapun. Ternyata sikapnya dipengaruhi oleh kematian anak-anaknya dan kehidupan sulit yang dialaminya. Tapi dia seorang ibu yang bertanggung jawab dalam hal pekerjaan rumah tangganya.Keluarga Forrester, tetangga terdekat Baxter, terdiri dari beberapa lelaki yang berbadan besar, tegap, sering bersikap kasar dan senang berpesta.Hubungan unik antara keluarga Baxter dan Forrester, dua keluarga yang bertolak belakang tapi saling membutuhkan dan mampu bahu membahu mengatasi kesulitan saat gangguan para predator terutama dari Beruang yang memangsa hewan ternak mereka, mampu diceritakan dengan jelas dan menarik.Buku ini menceritakan kejadian sehari-hari yang dialami keluarga Jody, bagaimana mereka bercocok tanam, mencari air, dan berburu. Terkadang situasi sulit seperti di musim dingin dan angin topan harus dilalui dalam rumah kecil mereka dengan bertahan hidup dari segala persediaan makanan yang tersisa.Rasa kesepian Jody karena tidak punya saudara membuatnya ingin sekali memiliki binatang peliharaan seperti yang dimiliki anak terkecil keluarga Foresster. Keinginan yang sangat ditentang oleh ibunya karena hanya akan menambah beban penghidupan mereka. Rasa kesepian Jody sangat dimengerti oleh ayahnya hingga Pa Baxter berusaha selalu mengajak Jody berburu dan melakukan aktifitas hingga hilang rasa sepinya. Dan akhirnya rasa kesepian itu terobati setelah dia diperbolehkan memelihara Flag, seekor anak rusa.Cerita yang teramat detail menggambarkan suasana hutan, tingkah para hewannya, perburuan terhadap binatang, kerasnya kehidupan di tengah belantara hingga hubungan antar manusia yang unik... saat digambarkan bagaimana tenangnya menikmati pemandangan disekitar hutan seolah mengantar kita benar-benar ada di sana. Saya suka dengan gambaran detail setiap peristiwa, tentang keindahan pagi di sepanjang hutan, tentang tarian burung bangau dan gambaran kehidupan keluarga Baxter untuk mempertahankan kehidupannya. Tapi sedikit ngeri membaca detailnya perburuan terhadap binatang yang sepertinya hampir seluruh hewan yang diburu akan dikonsumsi, gak kebayang makan daging kucing hutan, tupai, ular bahkan beruang.Cerita ini juga pada akhirnya memberi Jody suatu pelajaran, bagaimana bertanggung jawab dalam keluarga dan bagaimana merasakan siksaan kelaparan. Sedihnya melihat Jody harus merelakan hewan kesayangannya...

Gelo

I HATE THIS BOOK PERIOD! PLEASE DO NOT READ THIS! YOU WILL MISS HALF OF YOUR LIFE OR EVEN MORE! hahahaha

Lina

"Hutan, berburu, beruang, rusa, makanan, daging, semak jagung, pelaut dari Boston, lelaki-lelaki tinggi besar yang seperti beruang dan bertahan hidup."Nun jauh di sana, di sebuah hutan rimba, hiduplah satu keluarga kecil yang dikenal sebagai keluarga Baxter. Keluarga Baxter terdiri dari Pa dan Ma Baxter, serta putra tunggal mereka Jody. Keluarga Baxter tidaklah kaya, mereka bahkan bisa dikatakan miskin. Meski miskin, keluarga Baxter selalu dapat menjaga diri mereka agar tidak sampai kelaparan. Untuk dapat bertahan hidup keluarga Baxter harus bekerja keras setiap harinya. Mulai dari bertani dan menanam biji-bijian hingga berburu hewan liar di sekitar hutan. Hidup jauh di dalam hutan, membuat keluarga Baxter tidak memiliki tetangga di sekitar mereka. Satu-satunya tetangga terdekat mereka adalah keluarga Forrester yang pria-prianya bertubuh besar dan juga beringas. Tapi keluarga Baxter menjalin hubungan baik dengan keluarga Forrester hingga suatu peristiwa membuat hubungan mereka renggang. Peristiwa apakah itu?Sebagai satu-satunya anak tunggal dalam keluarga Baxter, Jody kerap kali dihinggapi kesepian. Meski mendapat kasih sayang berlimpah dari sang ayah, Jody menginginkan seorang teman yang bisa diajak berbagi dan menemaninya bermain. Hingga suatu hal membuat Jody menemukan seekor anak rusa di hutan. Nah sekarang opini gue:Saya punya kebiasaan kalau habis baca buku tentang hewan atau menonton film tentang hewan, saya suka ikut-ikutan kepengen punya binatang peliharaan, Misal sehabis menonton How To Train Your Dragon, saya jadi kepengen memelihara errr naga :PNah sehabis baca buku ini, saya jadi kepengen memelihara anak rusa. :DOk, lupakan soal binatang peliharaan, balik ke review. Sejujurnya saya bingung kalau harus menceritakan isi buku ini, karena ceritanya lebih seputar mengenai kehidupan sehari-hari keluarga Baxter dalam bertahan hidup di hutan. Tidak ada plot seperti si baik lawan si jahat, kabur dari penjara, dll.Untuk kesannya sendiri, persis seperti yang saya tulis di judul atas. Menarik, emosional tapi juga membosankan.Saya akan mulai dari menarik, cerita menarik karena penuturan penulis yang begitu kaya detil akan deskripsi, saat membaca bukunya, saya seolah seperti berada di hutan lengkap dengan kesunyian dan aroma hutan. Semua detil hutan, seperti cuaca, angin, aroma daun dan tanah, hingga bagaimana pohon-pohon dan hewan-hewan bergerak, semua detil dijabarkan dengan begitu rinci seolah tak ada celah yang terlewati. Bahkan saat berburu pun, penulis begitu runut memaparkan setiap adegan yang terjadi di sekelilingnya dan sukses membuat saya merasa ikut tegang saat mengikuti Jody dan ayahnya berburu Slewfood tua.Emosional, penulis bukan hanya kaya dalam memaparkan deskripsi visual, tapi juga detil dalam menuturkan adegan-adegan yang berhubungan dengan emosi. Misal kematian salah seorang teman Jody dan yang terutama hubungan Jody dan ayahnya. Atau bagaimana reaksi stress ayah dan ibu Jody saat hasil panen mereka hancur atau bila mereka gagal mendapat buruan. Dari sini penulis dengan tegas menyatakan, betapa mengerikannya kelaparan itu. Dan puncaknya mungkin hubungan Jody dan Flag, si anak rusa.Membosankan, nah ini mungkin selera. Kalau saja kondisi saya tidak dikejar timbunan dan kesulitan bagi waktu antara fokus baca atau hal-hal lain, saya mungkin lebih bisa menikmati buku ini. Buku klasik itu biasanya mempunyai deskripsi yang panjang lebar, bahkan deskripsinya saja bisa sebanyak 1 paragraf dan 1 paragrafnya itu bisa 1 halaman full, misal seperti di halaman 409. Sementara sekarang ini, saya lagi coba membaca 'cepat', dan baca 'cepat' itu agak kurang cocok dengan buku yang 'kaya deskripsi' atau 'permainan diksi'. Satu hal lagi yang membuat bosan adalah plot yang lambat. Rasanya untuk mencapai plot berikutnya, penulis mengajak pembaca untuk 'muter-muter' dulu, jadinya sudah membuat saya capek duluan, karena plot muter-muternya membuat saya kehilangan 'ikatan' dengan ceritanya.Karakter.Karakter favorit saya di sini adalah Pa Baxter atau Penny Baxter. Rasanya saya akan menominasikan Penny sebagai book father tahun ini. Bahkan Penny mungkin salah satu tokoh ayah paling bijak yang pernah saya baca. Saya kagum, walaupun serba kekurangan, Pa Baxter sama sekali tidak serakah dan hanya mengambil sesuatu sesuai kebutuhan.Sedangkan untuk Jody, kalau menurut saya ia agak manja. Hehehehe, tapi wajarlah masih kecil, di buku tidak pernah diberitahu umur Jody yang sebenarnya, tapi saya menebak mungkin usianya antara 11-13 tahun. Eniwei, saya berpikir, sebenarnya tema atau inti buku ini tentang apa sih? Apa tentang bertahan hidup? Setelah selesai baca, sepertinya bisa masuk tentang kedewasaan. Terkadang untuk dewasa kita harus melewati banyak hal-hal yang menyakitkan dahulu baru kita dapat memahaminya. Selain itu saya juga bersyukur hidup di era teknologi yang serba praktis, asli tidak terbayang deh kalau harus tinggal di jaman di mana segala sesuatunya serba manual. Saya ingat, paling jengkel kalau mati lampu, karena pompa air jadi tidak berfungsi dan untuk mandi, saya terpaksa menggotong air pakai ember dari bak ledeng. Selain itu, enaknya jaman sekarang, kita juga punya banyak sarana hiburan. Bayangkan dengan jaman di mana Jody hidup dan tinggal yang pilihannya serba terbatas, tak mengherankan masyarakatnya tampak antusias saat ada orang lain yang bercerita mengenai sesuatu, meskipun sesuatu itu terkadang biasa saja.Favorite quote:"Tidak ada hikmah. Manusia hanya perlu ingat untuk rendah hati karena tak ada apa pun di bumi yang bisa dia anggap miliknya sendiri." ~hal. 280"Kita tidak pernah tahu apa yang kita inginkan sampai sudah terlambat untuk mendapatkannya." ~hal 408 BTW, baca review Indah juga di sini, niatan awal mau baca bareng Indah dan Riri (My Heaven on Earth), ternyata sayanya tidak bisa fokus untuk selesai tepat waktu. Entah mengapa akhir-akhi saya merasa begitu monoton dalam mereview.Buku ini saya sarankan bagi mereka yang suka buku-buku klasik dan anak-anak ataupun buku-buku yang mengambil setting klasik.

Share your thoughts

Your email address will not be published. Required fields are marked *